Oleh: Rendai Ruauw
Manado, Elnusanews – Setiap hari layar kita dipenuhi peta yang memerah. Nama-nama negara melintas seperti skor pertandingan: Amerika Serikat dan Iran, Pakistan dan Afghanistan, Israel dan Hamas di Palestina, Ukraina dan Rusia. Dunia seperti tak pernah kehabisan peluru, dan media tak pernah kehabisan judul.
Informasi tentang apa yang terjadi disebut “berita”, dan berita selalu tentang hal yang buruk. Kita jarang membuka layar untuk menyaksikan kedamaian. Kita datang karena ledakan bom, karena darah, karena konflik. Kita menjadi penonton atas penderitaan orang lain yang berada di tempat yang jauh.
Namun ada yang lebih sunyi dari dentuman bom. Ia bekerja rapi dan sistematis. Sebuah mesin perang triliunan dollar bekerja melalui siklus di mana kontraktor militer menghabiskan jutaan dollar untuk lobi dan kampanye, yang sering kali memanfaatkan media untuk menjaga agar aliran dana tetap berjalan. Perang bukan sekadar pertempuran di medan tempur. Ia adalah bisnis. Ia punya neraca keuangan. Ia punya investor.
Liputan media sering kali mencerminkan sudut pandang yang sempit, lebih dibentuk oleh signifikansi geopolitik daripada urgensi kemanusiaan. Nyawa manusia ditakar berdasarkan kepentingan strategis. Tangisan seorang ibu tidak cukup penting jika wilayahnya tidak punya nilai tawar politik.
Bad News is a Good News. Kalimat lama yang terasa pahit itu seperti hukum tak tertulis dalam industri informasi. Semakin mengerikan, semakin laku. Semakin tragis, semakin viral. Pers, dalam masa perang, bukanlah pengamat yang netral, menjual sensasi penderitaan yang sering kali mereduksi martabat korban. Kamera menyorot puing, memperlambat tangis, mengulang ledakan. Kesedihan menjadi komoditas.
Kebenaran sengaja dikaburkan oleh kekuatan dominan. Celakanya media justru menjadi kaki tangan mereka dengan terus mengulang-ulang narasi dan kata-kata manis pesanan penguasa. Propaganda hari ini jarang berbentuk teriakan kasar. Ia hadir sebagai analisis elegan, sebagai grafis yang meyakinkan, sebagai narasi yang terdengar logis.
Teringat satu pernyataan keras dari Malcolm X. "Media adalah entitas yang paling kuat di atas bumi. Mereka memiliki kekuatan untuk membuat yang tidak bersalah menjadi bersalah, dan yang bersalah menjadi tidak bersalah, karena mereka mengendalikan pikiran massa." Kalimat itu terasa makin relevan ketika kita menyaksikan, bagaimana satu pihak dipoles menjadi pahlawan dan pihak lain dibingkai menjadi monster, tergantung dari siapa yang memegang mikrofon.
Dalam situasi seperti ini, kebenaran bukan hilang. Ia hanya tertimbun. Tertutup oleh pengulangan. Karena sesuatu yang diulang terus menerus, lambat laun terdengar seperti fakta. Lalu, kita pun terbiasa mengunyahnya tanpa bertanya.
Di Indonesia, masalahnya menjadi lebih rumit. Kita sering memilih kabar, bukan karena ia benar, tetapi karena ia menyenangkan. Hoax yang manis lebih cepat dipercaya daripada fakta yang pahit. Kita sering tidak bertanya, apakah informasi itu sahih, melainkan apakah ia membela pihak yang kita dukung.
Ketika suatu wilayah di Amerika Serikat dilanda kebakaran, sebagian menyebutnya azab, karena sikap politiknya terhadap Israel. Empati padam, diganti rasa puas yang samar. "Seolah penderitaan orang lain bisa menjadi pembenaran bagi kemarahan kita sendiri."
Jika ada laporan tentang keunggulan militer Israel, kita buru-buru menuduh medianya pro-Barat. Jika sumbernya dari negeri Arab, kita anggap otomatis benar. Seakan-akan kebenaran ditentukan oleh paspor, bukan oleh data dan integritas. Kita lupa satu hal sederhana. Fakta tidak memiliki kewarganegaraan.
Perang lalu berubah menjadi tontonan ideologis. Kita kemudian berkubu. Kita bersorak. Kita marah jika tim kita kalah narasi. Padahal yang pertama mati dalam perang bukan hanya tentara. Yang mati lebih dulu adalah kebenaran dan kemanusiaan.
Anak-anak tidak pernah memilih konflik antara Ukraina dan Rusia. Rakyat biasa tidak pernah duduk untuk merancang strategi antara Iran dan Amerika Serikat. Namun merekalah yang kehilangan rumah, listrik, sekolah, bahkan masa depan. Para elite mungkin aman di balik meja strategi. Pionlah yang tumbang lebih dulu.
Kita hidup di era ketika perang bisa ditonton sambil menyeruput kopi. Sambil rebahan. Sambil menggulir layar tanpa henti. Kita merasa terlibat, padahal yang kita lakukan hanya mengonsumsi tragedi.
Perang bukan heroisme yang gagah. Ia adalah jerit yang tak terdengar dari balik reruntuhan. Ia adalah sunyi yang tidak disiarkan. Ia adalah kehilangan yang tidak pernah benar-benar kita rasakan.
Mungkin sudah waktunya kita belajar berhenti sejenak. Tidak setiap ledakan harus dibalas dengan komentar angkuh atau di dramatisir. Tidak setiap narasi harus langsung dipercaya. Ada jarak yang perlu dijaga, antara empati dan euforia. Ada keheningan yang perlu dirawat, agar nurani tidak ikut mati.
Karena setiap klaim kemenangan, selalu berarti ada pihak lain yang kehilangan segalanya. Dan jika kita masih bisa bersorak, atas kematian yang bahkan tidak kita kenal wajahnya, barangkali yang perlu kita periksa, bukan hanya nalar kita, tetapi juga hati kita.
.
.

0 komentar:
Post a Comment