*Catatan tentang Pemuda GMIM, Angka Seratus, dan Tanggung Jawab Sejarah Gereja*
Oleh: *Rendai Ruauw*
Manado, Elnusanews- Sejarah gereja bukan sekadar rangkaian angka yang disusun rapi demi keindahan seremoni. Ia adalah ingatan kolektif yang hidup, yang dibentuk oleh pergulatan iman, konflik generasi, dan keberanian untuk jujur pada masa lalu.
Ketika angka “seratus” mulai diperebutkan menjelang 2026, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya ketepatan hitung tahun, melainkan kedewasaan gereja dalam memaknai sejarahnya sendiri.
Ada perbincangan yang menghangat, bahkan cenderung 'panas' dan menegangkan di kalangan Pemuda GMIM Lintas Generasi, dalam Group WhatsApp PGLG, yang mana telah memperlihatkan sebuah dinamika yang menarik sekaligus penting. Di satu sisi, ada antusiasme para junior yang ingin merayakan sejarah secara besar dan optimistis. Di sisi lain, muncul suara para senior yang mengingatkan bahwa sejarah Pemuda GMIM tidak 'sesederhana' garis lurus yang ditarik dari masa lalu menuju masa kini. Ketegangan ini, jika dibaca dengan jernih, justru merupakan pertanda sehat bahwa "gereja masih memiliki ingatan dan keberanian untuk berdialog."
Pemuda GMIM tidak lahir dalam satu malam yang sunyi. Ia bertumbuh melalui fase-fase historis yang berbeda, dengan konteks dan identitas yang tidak selalu sama. Ada *Serikat Pemoeda Masehi (SPM)* yang lahir dari kesadaran nasionalisme gerejawi pada awal abad ke-20, ada *Pergerakan Pemuda Kristen Minahasa (PPKM)* yang bergerak relatif mandiri, dan ada *Pemuda GMIM* yang baru terintegrasi secara struktural ke dalam tubuh GMIM pada tahun 1966. Setiap fase merupakan mata rantai sejarah, "tetapi bukan berarti dapat diperlakukan sebagai satu entitas yang utuh tanpa penjelasan."
Tulisan-tulisan sejarah gereja, termasuk refleksi dari senior Pdt. Nico Gara tentang Hari Persatuan Pemuda GMIM, mengingatkan bahwa sejak awal yang dirayakan adalah Hari Persatuan atau "_*bondsdag*_" (bahasa Belanda). Istilah ini lahir dari 'kesadaran untuk menyatukan,' bukan dari kebutuhan yang menandai usia institusi. Persatuan mendahului organisasi, gerakan mendahului struktur. Karena itu, mengubah hari persatuan menjadi hari ulang tahun tanpa kehati-hatian historis akan berisiko menggeser makna yang justru paling mendasar.
Kronologi perayaan Hari Persatuan Pemuda GMIM dalam dua dekade terakhir memberikan pelajaran penting tentang rapuhnya ingatan kolektif jika tidak dirawat. Kesalahan penomoran yang berulang sejak tahun 2012 bukanlah sekadar soal teknis, melainkan tanda bahwa sejarah bisa tergelincir secara perlahan. Dari data yang ada, tahun 2026 secara internal adalah tahun ke-99, bukan ke-100. Fakta ini sederhana, tetapi menentukan. "*Sejarah tidak berubah hanya karena kita menginginkan angka yang lebih bulat dan mudah dirayakan*."
Di titik ini, gereja perlu dengan jujur membedakan antara sejarah gerakan dan sejarah institusi. Merayakan satu abad kesadaran persatuan pemuda Kristen Minahasa adalah hal yang sah, bahkan indah. Namun menyebutnya secara mutlak sebagai “100 Tahun Pemuda GMIM” tanpa penjelasan yang memadai justru membuka ruang kekeliruan yang kelak akan diwariskan kepada generasi berikutnya. "*Gereja tidak boleh membangun masa depannya di atas narasi yang rapuh*."
Kehati-hatian semacam ini menjadi semakin penting ketika muncul kecenderungan lain dalam tubuh gereja, yang juga mengklaim usia serupa (seperti klaim "100 Tahun" dari Komisi Pelayanan Remaja GMIM). Ketika sebuah komisi pelayanan merasa dapat menarik garis sejarahnya hingga jauh, *bahkan sebelum ia secara struktural dibentuk*, maka gereja patut berhenti sejenak dan bercermin. Apakah kita sedang menghormati sejarah pelayanan, ataukah sedang tergoda untuk mengklaimnya secara institusional? Perhatian pastoral yang telah lama ada tentu patut disyukuri, tetapi perhatian pastoral tidak identik dengan keberadaan organisasi formal.
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, melainkan untuk menggugah. Gereja yang dewasa adalah gereja yang mampu membedakan antara sejarah pelayanan dan sejarah kelembagaan. Jika perbedaan ini diabaikan, maka bukan tidak mungkin sejarah GMIM akan dipenuhi tumpang tindih klaim yang saling melemahkan, dan gereja sendiri akan kesulitan menjelaskan jati dirinya di hadapan publik.
Karena itu, GMIM memerlukan sebuah _naskah klarifikasi resmi bergaya sinodal_, yakni sebuah dokumen yang ditulis dengan bahasa tenang, jernih, dan bertanggung jawab, yang menjelaskan secara terbuka perbedaan antara gerakan persatuan, pelayanan kategorial, dan pembentukan institusi. Klarifikasi semacam ini bukan tanda kelemahan, melainkan wujud integritas. Gereja yang berani menjelaskan sejarahnya dengan jujur justru "sedang mengajarkan iman yang dewasa kepada umatnya."
Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah penyusunan buku *Sejarah Pemuda GMIM* dengan pendekatan metodologis yang serius. Sejarah tidak boleh ditulis sebagai kumpulan kenangan selektif atau glorifikasi sepihak. Ia perlu disusun dengan pembagian periode yang jelas, penggunaan sumber primer dan kesaksian lintas generasi, serta keberanian mencatat perbedaan tafsir sebagai bagian dari narasi. Sejarah yang matang tidak takut pada tanda tanya.
Jika perayaan besar tetap dilaksanakan pada tahun 2026, maka bahasa perayaan itu sendiri harus ditata ulang. Narasi liturgis sebaiknya tidak terjebak pada klaim angka, melainkan mengajak jemaat melihat perjalanan panjang pemuda gereja sebagai ziarah iman. Dari gerakan persatuan yang lahir di tengah kesadaran nasional, menuju integrasi pelayanan dalam struktur gereja, hingga pergumulan pemuda masa kini yang hidup di tengah perubahan sosial yang cepat.
Liturgi yang jujur tidak akan membuat gereja tampak kecil. Justru sebaliknya, ia memperlihatkan kedewasaan rohani: keberanian mengakui proses, kesalahan, dan pembelajaran. Gereja yang berani berkata, “Inilah sejarah kami, dengan segala kompleksitasnya,” adalah gereja yang tidak takut pada masa depan.
Menjaga ingatan dan merawat kebenaran adalah panggilan lintas generasi. Angka seratus mungkin memikat mata, tetapi kebenaranlah yang membentuk karakter. Di sanalah Pemuda GMIM, bersama seluruh GMIM, diuji: apakah memilih merayakan sejarah apa adanya, atau sekadar merayakan angka.
Sejarah pun akan mencatat pilihan itu, jauh lebih lama daripada gema tepuk tangan sesaat di hari perayaan.
(RR)
.


0 komentar:
Post a Comment