• Berita Terbaru

    February 11, 2026

    elnusanews/com , February 11, 2026

    "Ketika Angka Mendahului Kebenaran"


    Pemuda GMIM, Perayaan Usia, dan Tanggung Jawab Mengingat secara Jujur


    Oleh: Rendai Ruauw


    Ingatan adalah salah satu bentuk iman paling sunyi namun menentukan dalam kehidupan gereja. Ia bekerja pelan, tidak gaduh, tetapi membentuk cara kita memahami diri, asal-usul, dan arah bersama. Ketika gereja merayakan usia, sesungguhnya yang dirayakan bukan sekadar angka, melainkan kesetiaan pada kebenaran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di titik inilah perbincangan tentang “100 Tahun Pemuda GMIM” menjadi penting, bukan karena besarnya perayaan, tetapi karena tanggung jawab sejarah yang menyertainya.

    Pemuda GMIM lahir dan bertumbuh dalam konteks sosial, teologis, dan organisatoris yang panjang dan kompleks. Sejarahnya tidak jatuh dari langit sebagai angka bulat, melainkan terbentuk melalui proses sinodal, keputusan gerejawi, dan kesepakatan kolektif umat. Karena itu, pertanyaan tentang sejak kapan Pemuda GMIM dihitung bukanlah soal sentimen, melainkan soal metodologi. Gereja, sebagai tubuh yang mengaku hidup oleh Firman dan kebenaran, dituntut untuk disiplin dalam mencatat dan merawat sejarahnya sendiri.

    Keputusan Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM untuk tetap melaksanakan perayaan 100 tahun pada 2026, dengan dukungan formal pimpinan sinode, adalah fakta organisatoris yang tidak bisa diabaikan. Namun fakta organisatoris tidak otomatis menyelesaikan persoalan historis. Wewenang memang memberi hak untuk melangkah, tetapi kebenaran menuntut kehati-hatian dalam menentukan arah. Gereja besar justru diuji bukan ketika semua sepakat, melainkan ketika perbedaan dihadapi dengan rendah hati dan keterbukaan.

    Yang menjadi kegelisahan banyak warga GMIM bukanlah semangat merayakan, melainkan proses penentuan angka itu sendiri. Penelusuran sejarah yang tidak transparan, minim konsultasi lintas generasi, serta tidak melibatkan sejarawan gereja di Minahasa yang kompeten, menimbulkan kesan bahwa *sejarah sedang disederhanakan agar sesuai dengan kebutuhan momentum* . Padahal *sejarah gereja bukan alat legitimasi acara* , melainkan fondasi moral bagi kesaksian iman.

    Pemuda GMIM memiliki sejarah praksis yang kaya di berbagai wilayah sejak awal abad ke-20. Embrio-embrio gerakan pemuda memang telah hidup lama dalam bentuk lokal, kategorial, dan kontekstual. Namun dalam historiografi gerejawi, embrio tidak serta-merta disamakan dengan kelahiran organisatoris. Yang dicatat sebagai “usia” adalah saat sebuah gerakan diakui, disepakati, dan dilembagakan secara sinodal. Tanpa itu, angka menjadi tafsir bebas, bukan kebenaran bersama.

    Kekhawatiran lain yang patut dicatat ialah rencana peluncuran buku “100 Tahun Pemuda GMIM” di tengah perdebatan yang belum selesai. Buku sejarah seharusnya menjadi ruang kejernihan, bukan monumen kontroversi. Jika ditulis di atas fondasi yang belum disepakati, ia berisiko menjadi “buku putih” yang justru mengundang koreksi keras di masa depan (Franky Mocodompis). Bukankah *lebih baik menunda dengan jujur, daripada tergesa dan mewariskan problem bagi generasi berikutnya.*

    Dalam konteks inilah, suara para senior Pemuda GMIM menjadi penting, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai memori hidup gereja. Demikian pula suara jemaat di tempat-tempat awal perayaan Hari Pemuda (Rojer Tangkulung), yang menyimpan ingatan praksis dan pengalaman historis yang tidak selalu tercatat dalam arsip resmi. Sejarah gereja yang sehat lahir dari dialog antara dokumen dan ingatan, antara arsip dan kesaksian.

    Gereja mengenal *tradisi klarifikasi sinodal sebagai jalan etis ketika muncul perbedaan tafsir* . Klarifikasi bukan tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan. Ia memberi ruang untuk mengatakan: “kita perlu memeriksa kembali,” tanpa harus saling meniadakan. Dalam hal ini, sebuah naskah klarifikasi resmi yang jujur, terbuka, dan metodologis justru akan memperkuat martabat Pemuda GMIM di mata umat.

    Perayaan iman sejatinya tidak harus terjebak pada angka yang dipaksakan. Liturgi gereja mengenal hikmat simbolik: *merayakan perjalanan, bukan memutlakkan hitungan* . Opsi narasi liturgis bisa dirumuskan secara arif, misalnya dengan menekankan “seabad perjalanan pemuda dalam terang pelayanan GMIM,” sambil tetap membuka ruang penelitian sejarah yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

    Kritik yang muncul belakangan (termasuk soal klaim usia yang ditarik hingga 1926) hendaknya dibaca sebagai panggilan refleksi, bukan ancaman. Bahkan jika kritik itu hanya “disenggolkan” dalam ruang publik, ia cukup untuk mengingatkan bahwa gereja tidak kebal dari koreksi. Tradisi Reformed justru hidup dari kesediaan untuk terus diperbarui oleh kebenaran.

    Pada akhirnya, menjaga ingatan berarti merawat kejujuran. Pemuda GMIM tidak akan menjadi kecil karena menunda klaim seratus tahun, tetapi bisa menjadi besar karena berani berkata: *kita ingin benar sebelum meriah* . Sejarah yang diluruskan hari ini adalah anugerah bagi masa depan, bukan beban.

    Gereja yang dewasa adalah gereja yang berani berjalan pelan demi kebenaran. Dan Pemuda GMIM, sebagai obor pembangunan, seharusnya menjadi teladan dalam hal ini: *setia pada terang, meski ia menuntut kehati-hatian, dialog, dan kerendahan hati* . Sebab dalam iman Kristen, *kebenaran selalu lebih penting daripada sekedar perayaan* . 

    ( *RR* )

    .

    Next
    This is the most recent post.
    Older Post
    • Comments
    • FB Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: "Ketika Angka Mendahului Kebenaran" Rating: 5 Reviewed By: elnusanews/com
    Scroll to Top