BITUNG, Elnusanews - Kehadiran Andi Rompas yang juga merupakan Panglima Manguni Makasiouw di Kalimantan dalam rangka menghadiri undangan Panglima Jilah atas HUT nya yang ke 45.
Dikatakan bahwa, Panglima Jilah telah mengundangnya dalam beberapa pertemuan mengingatkan kembali untuk datang dalam perhelatan di Kalimantan.
"Kami kesana bersama rekan rekan dari Minahasa, didampingi lima orang."kata Rompas, di Bandara Samratulangi Manado, Kamis (27/8/2025).
Selain dirinya, juga hadir dalam kesempatan ini perwakilan dari Tanah Pasundan, bahkan Wakil Presiden Mas Gibran Rakabuming hadir disana.
Ia terkesan dengan Kalimantan meskipun alamnya panas, namun itu terobati dengan kesejukan budayanya yang sangat luar biasa.
"Dan kekompakannya, dengan satu komandonya," beber Rompas.
Melihat mereka yang datang itu hingga 10ribu orang, bahkan harus menempuh 8 jam perjalanan untuk bisa hadir.
"Jadi dari pelosok pelosok itu, mereka harus menempuh hingga 8 jam untuk hadir di tempat keramat yang di pimpin oleh panglima Jilah ini,"ungkapnya.
Ia menuturkan, selain itu, juga hadir Borneo dari Malaysia juga hadir.
"Nah, disana ada sebutan Mangku dan Pati, dimana Pati dapat disejajarkan dengan Raja, dan seluruh Pati yang ada di Kalimantan juga hadir. Bahkan seluruh yang ada di Serawak, Malaysia juga hadir,"katanya.
Ia juga terkejut saat di undang oleh pihak Malaysia untuk menghadiri kegiatan budaya Dayak nanti. Melihat lestarinya budaya di Kalimantan, Andi Rompas menilai hal ini perlu dibawa ke Sulawesi Utara.
Hal penting bagi masyarakat di Sulut adalah bersatu.
"Kita melihat di Dayak, mereka berkelompok kelompok, dan berbagai ragam budaya mereka, namun mereka bersatu."ujar Rompas.
Untuk itu, seiring berjalannya waktu, ia sudah berkomunikasi dengan salah satu petinggi dan berencana berkunjung untuk melihat maket di Sulut.
Sementara itu, ditanya awak media terkait perhelatan Zikir kebangsaan dalam rangka HUT RI ke 80 di Manado pada 30 Agustus nanti, dirinya berharap sesuai dengan apa yang menjadi tema pada kegiatan tersebut.
"Saya harap, sesuai dengan tertulis di judul, karena dimana langit di pijak disitu langit di junjung. Marilah kita saling menghargai, karena kalau mereka mayoritas di Indonesia, kita ini mayoritas di Sulawesi Utara dan Minahasa," tegasnya.
"Jadi, jangan di kecoh dengan flyer itu, yang akhirnya akan menjadi angkat bendera Palestina,"sambungnya mengatakan.
Jadi menurutnya sesuaikan, kalau mau program pengangkatan bendera Palestina, kasih di flyer pengangkatan bendera Palestina, tapi jangan di flyer berdoa untuk kebangsaan tetapi tiba tiba nanti bendera itu berkibar. Poinnya, dimana bumi di pijak, disitu bumi di junjung.
"Torang minoritas di Indonesia, tapi Torang mayoritas di Minahasa. Jadi hargai Torang punya kerukunan yang sudah ada selama ini,"tandasnya.
Sementara itu, Ketua POLA, Puboksa Hutahean dikesempatan yang sama, menghimbau. "Tetap kita harus bersatu untuk melestarikan adat budaya Minahasa sebagai pemersatu bangsa, kita tetap menjaga solidaritas kerukunan dan menghargai perbedaan," singkatnya. (*)
0 komentar:
Post a Comment