Oleh: Rendai Ruauw
Setiap tahun, mudik seperti membuka tirai yang sama, namun selalu terasa baru. Jalanan penuh, kendaraan merayap, dan wajah-wajah yang lelah tetap menyimpan cahaya kecil bernama harap. Orang-orang bergerak pulang, seolah ada sesuatu yang memanggil lebih kuat dari kesibukan apa pun. Tapi jika dilihat lebih dalam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik. Ia seperti proses diam-diam untuk merapikan diri, mengingat kembali arah, dan bertanya dengan jujur: masihkah kita tahu arti pulang.
Di sepanjang perjalanan itu, Indonesia tampak tanpa hiasan. Tidak ada pidato, tidak ada panggung, tidak ada kata-kata besar yang berusaha meyakinkan siapa pun. Yang ada hanya manusia dengan niat sederhana: ingin bertemu, ingin memaafkan, ingin memulai lagi. Hal-hal yang terdengar ringan, tetapi justru paling sulit dilakukan ketika hidup sudah terlalu penuh oleh kepentingan dan ego yang tak sempat diberi jeda.
Lalu malam takbiran datang seperti jeda yang lebih dalam. Suara takbir mengalun dari segala arah, kadang rapi, kadang berantakan, tapi selalu terasa tulus. “Allahu Akbar” menggema bukan hanya di udara, melainkan juga di ruang-ruang batin yang lama tidak disentuh. Ia mengingatkan bahwa setinggi apa pun manusia berdiri, selalu ada batas yang tak bisa ia lampaui.
Di malam itu, banyak hal yang biasanya kita anggap penting tiba-tiba terasa kecil. Ambisi, jabatan, bahkan kemenangan—semuanya seperti diminta untuk menepi sejenak. Takbir mengajak kita melihat ulang: apakah yang kita kejar selama ini benar-benar layak diperjuangkan, atau sekadar kebiasaan yang terus diulang tanpa pernah dipertanyakan.
Kesadaran seperti ini, kalau dipikir-pikir, justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan demokrasi. Namun sayangnya, demokrasi sering berjalan tanpa ruang hening. Ia sibuk dengan strategi, angka, dan hasil, tetapi jarang berhenti untuk bertanya tentang makna. Padahal tanpa kejujuran, keadilan, dan kepercayaan, semua itu hanya akan menjadi prosedur yang terasa rapi tapi kosong.
Kita terlalu cepat merayakan kemenangan, tetapi kurang sabar menjaga proses. Padahal dari proses yang bersihlah kepercayaan tumbuh. Dan ketika kepercayaan itu rusak, tidak ada sistem yang cukup kuat untuk menambalnya dengan mudah. Ia butuh waktu, kesungguhan, dan keberanian untuk kembali jujur.
Hari Raya Idul Fitri kemudian hadir sebagai ruang yang hampir terasa mustahil, tapi nyata. Orang-orang saling memaafkan tanpa syarat yang berbelit. Tidak ada klarifikasi panjang, tidak ada pembuktian. Sebuah kesepahaman yang lahir dari kesadaran, bukan tekanan. Sesuatu yang justru jarang kita temukan dalam ruang-ruang formal kehidupan bernegara.
Di meja makan, ketupat hadir dengan kesederhanaannya. Diam, tanpa penjelasan, tetapi sarat makna. Anyamannya yang rumit menyimpan pelajaran tentang kesabaran dan ketelitian. Bahwa sesuatu yang kuat tidak lahir dari yang instan, melainkan dari proses merangkai yang tidak tergesa.
Demokrasi pun demikian. Ia bukan sekadar peristiwa yang datang lima tahun sekali dengan segala hiruk-pikuknya. Ia adalah kerja panjang yang sering berlangsung tanpa sorotan. Ada aturan yang harus dijaga, ada pelanggaran yang harus ditindak, dan ada pengawasan yang harus terus hidup, bahkan ketika semua terasa sunyi.
Dalam sunyi itulah Badan Pengawas Pemilihan Umum tetap bekerja. Bukan untuk mencari perhatian, tetapi untuk memastikan bahwa ketika saatnya tiba, semuanya berjalan di jalur yang benar. Pengawasan tidak lahir dari keramaian. Ia justru tumbuh dari konsistensi di waktu-waktu yang sering diabaikan.
Kita sering membayangkan ancaman terhadap demokrasi datang dalam bentuk besar dan mencolok. Padahal, ia sering hadir pelan-pelan. Dari pelanggaran kecil yang dibiarkan, dari kompromi yang terlalu mudah, dari sikap diam ketika seharusnya bersuara. Tanpa terasa, ia mengikis dari dalam.
Idul Fitri seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia bisa menjadi titik balik untuk melihat ulang diri kita, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari masyarakat. Sebab demokrasi, pada akhirnya, adalah cerminan dari sikap kita bersama—dari cara kita bersikap, memilih, dan bertanggung jawab.
Ketika gema takbir perlahan mereda dan hari kembali berjalan seperti biasa, ada satu pertanyaan yang tersisa dan layak disimpan baik-baik: apakah kita benar-benar sudah pulang. Bukan hanya ke rumah, tetapi ke nilai-nilai yang selama ini kita yakini sebagai dasar bersama.
Jika belum, maka mungkin di situlah pekerjaan kita dimulai lagi. Pelan, tenang, tanpa banyak suara. Menjaga agar kejujuran tidak berhenti sebagai ucapan, agar keadilan tidak sekadar wacana, dan agar demokrasi tetap memiliki jiwa.
Selamat Idulfitri
.
.
.



0 komentar:
Post a Comment